TIDAK ADA YANG 10/10, SEMUA ORANG LAYAK PADA TEMPATNYA



Setelah kamu Dewasa, kamu akan mengerti bahwa kecocokan dan keharmonisan itu dibangun, bukan hanya di harapkan dan disandarkan pada orang lain.

Setelah Single lumayan lama, 8 tahun mungkin, dan melewati banyak hal. Akhirnya aku memulai membuka Kembali perasaan ini. Yaps orang yang tidak pernah diduga hadir.

Perasaan itu sedikit aneh, karena orang yang selama ini dianggap kakak, atau mungkin tidak pernah terfikirkan menjadi bagian dari kehidupan. Tiba tiba Allaah hadirkan sebagai sosok yang aku bisa anggap Spesial.

Agak sedikit berat sejujurnya,karena memulai perasaan dari Nol. Bahkan mungkin minus? Yaa karena dengan lamanya aku sendiri, menghadirkan rasa percaya itu sulit, meskipun sosok ini aku kenal dekat sejak lama, mungkin sejak aku dibangku SMP.

Semakin berusia pikiran ini semakin kompleks, belum lagi aku harus realistis bahwa jika dengan aku, beban yang dipikul semakin berat. Karena bisa dibilang kami sama sama Sandwich Gen.

Tapi diluar masalah ini komunikasi kami sangat amat lancar. Karena kami sadar kami sudah saling Dewasa, rasanya ribut ribut kacau sudah tidak pernah terfikirkan. ( Tapi untuk Perempuan sih cari ribut untuk bercanda sering yah :”) hehe.. )

Kami banyak berdiskusi ringan hingga berat, sesekali ragu pun pasti hadir, tapi entah kenapa tetap kami lewati begitu saja.
Banyak hal juga yang kami rasa tidak mungkin, ternyata Solusi nya hadir dengan mudah.
Banyak pertanyaan berat, yang ternyata di konfirmasi keduanya dengan lapang dada untuk saling menerima.

Yaaa meskipun fase ini tidak mulus jalannya, pasti ada juga ujiannya....

Pun Pernah beberapa kali terfikirkan oleh ku untuk berhenti saja? Tidak lanjut? Atau memilih sendiri ? karena aku tau berbagi beban itu tidak mudah. Dan aku tidak ingin menjadi beban orang lain.

Tapi aku merasa cocok, aku suka dengan komunikasi kami, aku merasa aman ? merasa tenang ? ....
Dan Kembali lagi niat ini aku urungkan. Aku berusaha mem Validasi diri ku sendiri bahwa ini hanya ketakutan ku saja, hanya rasa khawatir, dan tidak mau keluar dari Zona Nyaman.

Dia memang tidak sempurna, pasti ada kalanya membuat kesal dan gelisah, tapi semakin aku Dewasa aku makin menyadari bahwa tidak ada orang yang hadir dengan Nilai 10/10.

Tidak ada yang hadir dengan paket lengkap. Tidak ada yang langsung cocok.
Bahkan Kepribadian kami sangat bertolak belakang. Aku Introvert dan Dia Ekstrovert . Ini sering jadi bahan diskusi kami juga, dengan POV yang berbeda .

Tapi aku tau komunikasi kami yang terus kami perbaiki akan membuat kami makin cocok dan harmonis atas izin Allaah.

Dia terus menjaga batas dengan ku karena dia tau aku tidak berpacaran. Bahkan saat kami bertemu kami akan ajak orang ketiga untuk menemani kami.

Tiap rasa gelisah tentangnya hadir banyak dari kawanku memberi nasihat

“Rin, belum tentu jika melepaskan yang saat ini, akan punya partner komunikasi lain sebaik ini”
“Rin gpp ya kerikil ujian itu datang sekarang, supaya bisa saling mengerti

Atau ada juga yang bilang

“Kak kemarin di tanya jawab Ustadz Nuzul Hafidzahullahu , Ustad memberi Nasihat seperti ini kurang lebih intinya :
“ Di Jaman ini sulit mencari laki laki baik, jadi jika ada laki laki baik datang mohon di pertimbangkan erat erat, karena mencari laki laki baik itu sulit”
 ( konteksnya laki laki dirasa tidak sekufu namun beliau amat baik akhlaknya)..

Setiap melihat nasihat ini aku selalu me reset otaku, berfikir panjang , karena memang benar di jaman ini mencari laki laki yang komunikasinya baik, tidak patriarki dan mau di ajak diskusi mendalam itu sulit.

Ada juga 1 moment aku merasa bahwa dia sangat mengerti aku yang introvert, dan amat memikirkan kenyamanan ku

Dia bilang;

Kalau 1 hari nanti ada rezeki melihat ( Sesuatu yang sangat dia suka ) , apakah mau jika dibelikan tiket VIP ? Jadi ga terlalu ramai dan nyaman.

Meskipun aku nda tau mau atau engga, tapi sangat aku hargai pertimbangannya bahwa jika mengajak orang yang energinya mudah habis seperti aku, haruslah di beri fasilitas yang mungkin bisa membuat nyaman.

Rasanya aneh ada orang yang memikirkan diri ku sebegitu dalam, setelah lama sendiri dan mandiri.

Tapi aku pun akan tetap memberikan penilaian objektif apapun itu bentuknya, meskipun arah kami udah pasti menuju ber keluarga, namun aku tetap akan meminta pertolongan Allaah sebagai sebaik baiknya penilai.

Dan kurasa aku atau pun dia akan sama sama berharga dan layak jika kami berada di tempat yang tepat. Kami banyak kekurangannya, dan kami sadar beban kami sangat berat. Namun kami juga punya Allaah yang Maha Kaya.

Seperti tulisan sebelumnya mengenai Rumah, aku beharap aku menemukan Rumah Itu segera, rumah yang hangat, rumah dimana aku bisa bersandar dan pulang dengan nyaman.
Rumah yang tidak mungkin tanpa keributan, tapi aku harap bisa menjadi kokoh setelah datangnya badai itu.

Nobody’s Perfect, justru dengan tidak sempurnanya itu kita hadir sebagai pelengkap, sebagai penyempurna.
Pun sebaliknya, dia akan membuat kita sempurna...

Ingat nasihat kajian waktu itu kurang lebihnya seperti ini;

Menikah itu Halfdeen ( Separuh Agama ) maka menikahlah dengan orang yang bisa sama sama menjaga separuhnya ini untuk menjaga Syahwat, lalu kita jaga diri kita separuhnya lagi dari Syubhat.

Komentar

Postingan Populer