Rumah Itu 🌸

 
Ternyata yang sulit itu bukan hanya belajar melakukan apapun sendiri setelah Patah Hati dan Hidup sangat Berantakan.
Tapi memulai bergantung pada orang lain setelah sangat lama sendiri itu juga amatlah sulit.
 
 
Haiiii.. 
 
Akhirnya hari ini aku punya sedikit tenaga dan mood untuk mulai mengisi Blogku yang telah lama kosong, sama seperti kisah hidupku yang penuh kekosongan.
Sudah 4 Tahun dari tulisan terakhir, entah apa yang membuat aku mau menulis kembali, ditengah ke Sok Sibukan aku dengan pekerjaan dan sibuk akan fikiran aku sendiri.
Mungkin Resah ? Mungkin Bahagia ? Mungkin Sedih ?.
Entahlah.. sudah pasti jika aku mulai menulis, isi kepala ini sangatlah berisik. Dan perlu aku tuangkan sedikit.
 
Yapss..
 
Seperti dua kalimat awal yang aku tuangkan di atas, dengan pilihan huruf tebal dan miring. 
Akhir akhir ini, di Fase menuju Kepala 3, aku seperti merasakan Fase yang aneh. 
Fase yang mungkin dulu saat Patah Hati, sangat aku idamkan. 
Fase di pertengahan usia 20 Tahun menjadi sumber Imajinasi dan Harapan setiap Akhwat.
Fase ingin mempunyai pelindung dan penjaga. 
Fase mengidamkan Sosok yang ingin aku jadikan Rumah. 
 
Tapi.. saat ini ?
Saat aku sudah terbiasa sendiri. Saat aku mulai menikmati setiap detik waktuku. Saat aku merasa sudah baik baik saja. Fase Fase itu tidak lagi terlintas di benak. 
 
Entah ini yang di sebut pendewasaan diri, atau pada akhirnya aku sudah mulai tidak bergantung pada orang lain. 
Aku bingung bagaimana mengekpresikan perasaan. 
Semua terasa canggung, aneh, tidak biasa..
 
Semua berawal di awal tahun ini, entah hal apa yang terjadi. 
Disaat aku berucap "ah apakah aku tidak usah menikah yah, sendiri tidak buruk"
 
Seolah seluruh bumi mendengar atas izin Allaah dan tidak Ridha akan hal itu.
Banyak yang akhirnya datang dan pergi mengisi. Yaps aku tidak ingat pasti kapan waktunya, tapi seolah Tahun ini adalah waktunya aku melangkah.
 
Sebenarnya di Fase sendiri kemarin sudah banyak yang mencoba membantu. Banyak yang *Gemash* dengan kesendirian ku. Mereka merasa ;
 
Rin nunggu apalagi ?
Rin lu Worth it banget ko ?
Rin banyak ko yang mau ?
Rin gue kenalin ya?
Rin ayok dong buka diri ?
Rin ada nih yang mau kenal ?
 
Tapi tahun tahun kebelakang aku seperti acuh, entah apa yang aku rasakan. Tapi sulit membuka diri, membuka hati.
 
Dan di Tahun ini, aku mulai mencoba. Bukan hanya mencoba untuk hal yang Allah Ridha yakni Menikah, tapi aku mencoba bersosialisasi kembali. 
Aku bertemu dengan teman teman Vespa ku, dengan teman teman Ngopiku dulu, dengan Adik kelasku.
Antusias mereka sangatlah senang. 
Bahkan sampai terucap "Kak gue seneng liat lu membuka diri lagi, yuk ketemu banyak orang lagi, lu pasti bisa ko, gue bahagia lu sudah membaik".
 
Meskipun pada realita nya terasa sangat Kedebag dan Kedebug. Aku mulai merasa Hidup Kembali. Iyah setelah lama sendiri dan tidak peduli akan diri. Kurasa aku sudah mulai sembuh.
 
Aku sudah mulai merapihkan Kamarku
Aku sudah mulai merawat Wajahku
Aku sudah mulai peduli dengan Kesehatanku
Aku sudah mulai mendahulukan Kebahagiaan diriku
Aku sudah mulai Menata Hidupku kembali.
 
Tapi dari semua hal ini satu yang aku tidak siapkan. 
 
Aku tidak Siap Menerima Orang Lain dan Bergantung lagi Pada nya.
 
Terlalu skeptis memang jika Makhluk Sosial ini, apalagi wanita yang lemah dan Moody ini, merasa tidak butuh orang lain. 
Tapi memang pada akhirnya aku merasa takut menggantungkan perasaan ku pada orang lain.
 
Dari semua yang datang dan pergi, selalu menawarkan pertolongan seolah mereka mampu menggandeng tanganku. Dan membuat diriku terasa aman.
Namun sisi itu tidaklah pernah benar benar hadir. Aku selalu takut, dan merasa *Tidak, aku mampu sendiri*.
 
Padahal Fitrah Wanita sudahlah pasti untuk Dilindungi, Diayomi, Dibuat merasa aman. 
Tapi kesendirian seolah membuat hatiku lebih keras. Kelembutan itu seolah Sirna. Kesendirian membuatku merasa lebih aman karena tidak akan ada orang yang berhak menyakitiku selain diriku sendiri.
 
Terlintas seolah Egois. Tapi karena Keegoisan ini aku merasa lebih selamat.
 

Tidak ada yang tahu bahwa aku pernah melewati Fase ingin mengakhiri hidupku.
Tidak ada yang tahu bahwa aku tidak pernah ingin bangun dari kasurku karena kesedihan yang amat dalam.
Tidak ada yang tahu rasa kecewaku membuat aku tidak bisa melihat masa depan.
Tidak ada yang tahu Eczema ku menyelamatkan ku karena tubuh memberi sinyal bahwa Stress ku sudah berlebihan.
 
Aku pernah hancur, patah, bahkan di injak berkali kali, karena merelakan hidupku untuk bergantung pada Manusia.
 
Lalu saat ini, saat ingin membuka hal itu, terasa berat.
Seperti harus menghancurkan Kunci Gembok yang aku pasang, bukan hanya satu, tapi Ratusan.
 
Hati kecilku ingin, ingin bergantung. Aku ingin mencoba meminta sesuatu. Ingin tidak Mandiri.
Tapi pada akhirnya aku takut. Dan tidak bergantung.
 
Benarlah Wanita itu tidak baik lama sendiri, karena akan kehilangan sisi kelembutan.
Fase 30 Tahun, membuat wanita lebih banyak berfikir soal Hidup Bersama dengan orang lain. Terlalu banyak pertimbangan. Terlalu banyak gambaran.
 
Sejujurkan aku tidak menyesal di Fase ini. Tapi aku hanya Khawatir dengan ke Mandirian ku, laki laki akan merasa tidak di hargai.
Karena bagaimanapun laki laki lebih suka sisi Feminin Wanita.
 
Namun untuk melepaskan Ke Mandirian itu butuh waktu. Butuh rasa aman dan butuh kepercayaan.
Dan aku sangat sulit meyakini itu.
 
Dari banyaknya masukan yang ku dengar. Dari Video yang ku tonton. Dari Buku yang ku baca. Aku sudah berusaha meneguhkan Hati, bahwa aku mampu memulai lagi.
Tapi pada prakteknya aku terus ragu, terus terasa abu abu, tidak pernah jelas iya ataupun tidak.
 
Yang ada dibenakku saat ini. Boleh kah aku tetap sendiri dulu?. Bolehkah aku menikmati masa masa bangkitku. Aku banyak kehilangan waktu mencintai diriku sendiri, dan aku tidak siap memasukan orang lain untuk aku pedulikan.
 
Aku sedang ingin egosi mencintai diriku secara ugal ugalan.
Aku ingin sombong dengan orang lain dan merasa tidak butuh.
Aku ingin acuh dengan rasa peduli orang lain
 
Tapi aku tidak bisa...
 
Setiap kali orang lain hadir, aku selalu menyisihkan rasa peduliku untuk memikirkannya.
Gesture itu tidak dibuat buat. Secara alami hadir tanpa aku minta. Tapi aku lelah lagi dan lagi.
 
Buat introvert kelas kakap sepertiku, hal ini sangat memakan banyak energi. Terlalu melelahkan, dan membuat Mood ku naik dan turun setiap harinya.
Si Melankolis ini terus meratap. Terus merasa bersalah namun merasa tidak pantas juga.
 
Ahhh apa yang harus aku lakukan...
itu yang terus terngiang di pikiranku..
 
Aku ingin bergantung, tapi juga tidak ingin..
Fase ini membingungkan..terlalu Absurd...
 
Isi Kepalaku seperti sedang Tawaf karena terus berputar..
 
Harapanku, siapapun laki laki nanti yang akan jadi pendampingku kelak. Paham bahwa terlalu banyak luka didalam diriku dan mau mengerti sisi Maskulinku. 
Mau mengerti dan sabar memahami ketidaklembutan yang hadir karena Mode Amanku.
Aku selalu berharap Fase berumah tangga benar benar menjadi Rumah untuk diriku.
 
Aku selalu ingin Rumah yang Hangat nan Sederhana.
Tidak ada Suara Gemuruh didalamnya, hanya ada Kelembutan.
Aku ingin bergantung sepenuhnya suatu hari nanti.
Aku ingin merasakan Fitrah Wanita seutuhnya.
Aku ingin dicintai dengan baik, dan tulus atas segala kekurangan yang aku punya.
Aku ingin menjadi diriku yang utuh, tanpa harus terlihat menjadi orang lain untuk dicintai.
 
Dari semua rasa kecewa yang hadir. Fase berumah tangga adalah Fase yang ingin kunikmati dengan baik. 
Aku hanya ingin tidak ada luka didalamnya. 
 
Ahhhh entah kenapa setiap membahas Kehangatan Rumah rasanya air mata tidak terbendung.
Aku selalu merindukan itu. Rumah yang Hangat. 
Aku ingin pulang kerumah yang bisa menerima utuh diriku yang penuh kekurangan ini.
Terlalu banyak luka dan kecewa yang aku terima, dan aku belajar menerimanya.
Tapi aku ingin membuka ruang baru yang lebih baik.
 
Untuk Rini si Wanita Mandiri yang selau tersenyum di kala terluka.
Aku tau kamu Hebat. Saking Hebatnya orang lain selalu merasa kamu baik baik saja dan mampu.
Tapi kamu boleh di satu waktu menunjukan sisi lemahmu.
Kamu boleh menangis, boleh sedih dan marah. 
Kamu boleh bersikap seperti anak kecil.
Kamu boleh meminta pertolongan orang lain.
Kamu boleh melakukan yang wanita lain lakukan.
Jangan takut salah dan orang lain mencemooh, karena kamu berhak atas perasaan perasaan itu.
Saat semua orang tidak menginginkanmu ingat ada Allaah yang selalu ada untukmu.
Dan ada dirimu sendiri yang bisa menerima itu.
Terima Kasih telah bertahan sejauh ini. Kamu sangatlah berharga Rini. 
Maka jadilah Mutiara yang bersinar.
Bukan Bersinar untuk dirimu sendiri, namun untuk orang disekitarmu.
Tidak perlu meminta maaf atas kekuranganmu, karena itu yang membuat mu ada di posisi ini.
 
MaasyaaAllaah nda terasa tulisan ku ini agak panjang... jadi kurasa cukup dulu untuk hari ini.. 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan Populer